Siswi ini ditabrak polisi malah jadi tersangka

Koranindo – Apes benar nasib siswi kelas II MTsN Model Banda Aceh berinisial PS (13). Usai ditabrak mobil dinas polisi hingga tulang pinggulnya lepas dan kaki kirinya patah, dia justru dijadikan tersangka.

“Kami sangat keberatan dengan hal ini (dijadikan tersangka),” kata Mursyida (38), ibu kandung PS saat ditemui wartawan di rumahnya Jalan Jamaah Lorong Sahabat, Gampong Beurawe, Banda Aceh, Selasa (5/11/2013).

Peristiwa nahas itu terjadi setahun lalu, 4 November 2012. Mulanya PS jalan-jalan sore bersama temannya dengan mengendarai sepeda motor jenis Suzuki Nex bernomor polisi BL 3029 LAK. Saat keluar persimpangan Jalan Teungku Abdulsalam, Gampong Blang Oi, Banda Aceh, sepeda motornya disambar mobil operasional polisi bernomor 112-29 yang dikendarai Briptu MH (29), dari Unit Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Besar.

Berita Terkait :  Keluarga korban tragedi Mina gelar tahlilan

Tubuh PS terbanting ke aspal. Tulang pinggang sebelah kirinya lepas, kaki kirinya patah. Diagnosa dokter menyebutkan kantong kemihnya juga bocor. “Saya tidak sadarkan diri lagi sehabis kejadian, teman saya cuma lecet-lecet,” kata PS.

PS kemudian menjalani operasi di RSU Fakinah Banda Aceh, malam itu juga. Usai menjalani operasi, kondisinya tak sempurna. Ia masih belum bisa berjalan, kecuali dengan bantuan tongkat di ketiak kiri kanan.

PS sampai kini masih sering mengeluh sakit di pinggang kiri dan perut. Keluarganya sempat membawa Putri ke rumah sakit di Medan, Sumatera Utara, namun kondisinya tak kunjung membaik. Keluarganya juga sempat membawa PS ke rumah sakit di Penang, Malaysia, pada Agustus lalu. Tapi kesembuhan PS harus menunggu waktu.

Berita Terkait :  Saan sebut pembahasan RUU IKN dikembalikan ke Panja

Saat fokus pada penyembuhan PS, keluarganya tiba-tiba diresahkan dengan surat pemanggilan dari Polresta Banda Aceh yang menyebutnya sebagai tersangka. PS sudah dua kali mendapat surat panggilan pemeriksaan pada 24 Juli dan 5 Oktober. Dalam surat panggilan itu disebutkan PS dijerat Pasal 310 ayat 1 dan 2 Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas.

Namun pemanggilan itu belum pernah diindahkan PS, sehingga dalam surat pemberitahuan selanjutnya penyidik menyebutkan kasus ini belum bisa dilimpahkan ke penuntut umum karena tersangka belum memberi keterangan. Dengan surat panggilan kedua itu, keluarga korban yang merencanakan membawa PS menjalani operasi kedua ke RS Penang, terpaksa dibatalkan.

Berita Terkait :  Majelis Hukama Al Muslimin temui Wapres belajar tentang toleransi

“Kami belum berani bawa karena ada surat pemanggilan itu,” sebut Mursyida.

Comments
Memuat...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More