Alasan Google Plus Kurang Diminati

  • Share
Alasan Google Plus Kurang Diminati
Alasan Google Plus Kurang Diminati

BabatPost.com – Pada bulan lalu, Google+ resmi dipecah menjadi dua layanan yang bernama Photos dan Streams. Langkah tersebut dapat diartikan sebagai keputusan Google untuk mengambil langkah lantaran jejaring social besutannya tersebut kalah bersaing melawan para raksasa pendahulunya semacam Facebook, Twitter, dan LinkedIn.

Sebenarnya apa alasan di balik kegagalan Google+? Berikut adalah rangkuman dari berbagai sumber yang memicu Google Plus kurang diminati.

Salah satu penyebab yang disebutkan adalah Google+ ternyata lebih dirancang untuk mengurangi beban Google ketimbang dirancang untuk memudahkan penggunanya dalam saling terhubung.

Dengan adanya Google+, Google tidak perlu lagi mengelola banyak profil pengguna dalam berbagai layanan dan produk yang disediakan, hal ini karena seorang pengguna cukup melakukan sekali login ke Google+ untuk dapat mengakses aneka layanan perusahaan tersebut.

Berita Terkait :  Ketika negeri sebesar Amerika kewalahan lawan hoaks yang membuat vaksinasi melambat

Teknologi yang sangat canggih memang, namun sayangnya, pengalaman social networking yang disajikan tidak sesederhana jejaring sosial lain.

Dalam menggunakan Google+, para pengguna Google+ harus berpikir siapa saja yang harus ditambahkan ke masing-masing circle. Memang lebih tertata sebenarnya namun cara ini lebih rumit ketimbang hanya menambah seseorang sebagai teman seperti pada Facebook atau menambah orang lain dalam jaringan seperti pada LinkedIn. Lagi-lagi kecanggihan kalah dengan kesederhanaan.

Alasan lain adalah berkaitan dengan transformasi pola penggunaan ke arah gadget mobile yang ternyata tidak diantisipasi dengan cepat dan tepat oleh Google.

Berita Terkait :  Video di Facebook Dicuri, Pembuatnya Tetap Dapat Duit

Sesungguhnya Facebook juga terlambat masuk ke dunia mobile, akan tetapi jejaring sosial Facebook belakangan ini mampu mengatasi ketertinggalannya, dan justru kemudian malah menjadikan pengguna mobile sebagai sumber pemasukan utama.

Namun sebaliknya, Google+ terlalu berfokus pada foto beresolusi tinggi yang tentunya bagus buat pengguna desktop, akan tetapi lamban dibuka di perangkat mobile.

Sumber internal Google juga menambahkan adanya faktor lain, yaitu termasuk mundurnya pimpinan Google+, Vic Gundotra, pada tahun lalu yang tentunya menyebabkan kekosongan di pucuk kepemimpinan.

Berita Terkait :  Dirjen Pajak Indonesia Terus Kejar Tagihan Rp500 M Google Singapura

Kendati tidak berkembang sesuai harapan menjadi jejaring sosial besar dan aktif seperti yang diimpikan pembuatnya, Google+ tidak dikatakan sepenuhnya gagal. Google+ bisa dipakai sebagai tool yang berguna untuk mengatur foto secara online.

Dengan Google+, Google pun telah membuat platform solid yang sangat memudahkan jutaan penggunanya dalam menggunakan aneka produk dan layanan yang disediakan perusahaan raksasa search engine tersebut.

  • Share