Ekonomi China Merosot Ke Level Terendah Dalam 6 Tahun

Pertumbuhan ekonomi China terus menciut, tetapi masih tertolong oleh tingkat belanja konsumen yang cukup solid. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu tumbuh hanya 6,9 persen dalam periode Juli-September, terendah sejak awal 2009 seiring krisis keuangan global. Angka itu turun dari 7 persen dalam kuartal sebelumnya.

Melemahnya volume perdagangan dan produksi manufaktur memicu kekhawatiran tentang pemutusan hubungan kerja dan kemungkinan kerusuhan. Pemerintah telah memangkas suku bunga lima kali sejak November lalu guna memacu pertumbuhan ekonomi.

Data yang dirilis China hari Senin (19/10) juga menyebutkan belanja konsumen meningkat dalam kuartal lalu. Penjualan eceran naik dari 10,5 persen bulan Juli menjadi 10,9 persen bulan September. Belanja lewat Internet juga naik 36 persen dalam kuartal itu dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berita Terkait :  Tidak Baik Terlalu Banyak Konsumsi Tomat

“Krisis di sektor properti dan melemahnya ekspor terus menekan pertumbuhan domestik bruto China,” kata analis Louis Kuijs dari lembaga Oxford Economics. “Tetapi konsumsi domestik dan pengeluaran di sektor infrastruktur mencegah penurunan ekonomi yang lebih parah.”

Melambatnya pertumbuhan China dalam lima tahun ini sebenarnya disebabkan faktor dalam negeri karena pemerintah sedang berusaha menjadikan ekonominya lebih berbasis konsumsi domestik dan layanan industri daripada bergantung pada ekspor dan investasi.

“Semua perkembangan baru ini mengisyaratkan reformasi ekonomi China berjalan lancar,” kata Sheng Laiyun, juru bicara badan statistik pemerintah. “Kondisi ekonomi China secara keseluruhan masih kokoh.

Berita Terkait :  Pencurian Listrik Marak, PLN Siap Gandeng MUI untuk Keluarkan Fatwa Haram tentang Pencurian Listrik

Bila prediksi para investor tentang meletusnya gelembung ekonomi Cina menjadi kenyataan, dampaknya akan sangat besar terhadap dunia, khususnya negara-negara Asia. Karena ekonomi Cina kedua terbesar di dunia. Harga-harga komoditas akan tunggang-langgang. Cina juga akan berusaha keras untuk memperbesar ekspornya. Akibatnya, negara-negara dengan industri lemah, seperti Indonesia akan kebanjiran barang-barang Cina.

Dampak dari setiap krisis global akan membuat likuiditas mengering. Sayangnya, kemampuan negara-negara besar untuk memompa likuiditas sudah kecil. Sebab, dampak krisis global tahun 2008 telah membuat rasio utang dibanding PDB mereka sudah tinggi, termasuk Cina. Dalam kondisi ekonomi seperti ini, sudah pasti Cina berusaha menyelamatkan dirinya dulu, bukan menolong negara lain.

Berita Terkait :  Korban Selamat Ledakan Pabrik Petasan Itu Bercerita Tentang Kengerian Kobaran Api

Celakanya, pemerintahan Jokowi sangat berharap mendapatkan utang dari Cina untuk membangun infrastruktur besar-besaran. Tampaknya, harapan tersebut hanya akan menjadi isapan jempol belaka.

Comments
Memuat...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More