Beranda Berita Internasional Profil Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Nayef, Yang Sering Diancam...

Profil Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Nayef, Yang Sering Diancam Dibunuh

BERBAGI
Advertisement BabatPost.com

Babatpost.com – Satu Nama Yang tengah menemani Raja Salman Berkunjung ke Indonesia dia adalah Pangeran Muhammad bin Nayef, putra dari Pangeran Nayef bin Abdulaziz al Saud atau cucu dari Raja Pertama Arab Saudi Abdulaziz al Saud.

Pangeran Muhammad saat ini menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Arab Saudi dan Ketua Dewan Urusan Politik dan Keamanan. Namun, di atas semuanya, Pangeran Muhammad adalah Wakil Perdana Menteri (disebut juga Wakil PM Pertama) atau Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi. Dialah yang akan menggantikan Raja Salman jika sang paman wafat.

Posisi penting itulah yang menjelaskan kenapa Pangeran Muhammad tak terlihat hadir dalam rombongan besar Raja Salman saat mengunjungi Jakarta dan Pulau Bali. Dalam tradisi politik Kerajaan Arab Saudi, Putra Mahkota akan tetap tinggal menjaga kerajaan jika Sang Raja sedang melawat ke luar negeri.

Pangeran Muhammad bin Nayef adalah generasi ketiga atau cucu pertama Raja pendiri Arab Saudi yang diangkat jadi putra mahkota. Sang ayah, Pangeran Nayef bin Abdulaziz al Saud, merupakan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi tahun 2011-2012.

Namun, Pangeran Nayef keburu meninggal karena penyakitnya pada 16 Juni 2012 sebelum menduduki tahta Kerajaan Arab Saudi. Wafat dalam perawatan di Jenewa, Swiss, jenazah Pangeran Nayef dimakamkan di Kota Mekah. Namun, bukan nasib Pangeran Nayef yang membuat Raja Salman memutuskan memilih Pangeran Muhammad sebagai Putra Mahkota.

FBI dan Scotland Yard

Pangeran Muhammad lahir di Kota Jeddah pada 30 Agustus 1959. Dia anak laki-laki tertua kedua dari 10 anak Pangeran Nayef. Pangeran Saud adalah kakak tertuanya dan Pangeran Fahd adalah adiknya. Ibunya adalah Al Jawhara binti Abdulaziz bin Musaed Al Jiluwi yang merupakan anggota dari Al Jiluwi, cabang dari Dinasti Saud.

Pangeran Muhammad menikah dengan Putri Reema bin Sultan bin Abdulaziz, yang merupakan saudara sepupunya. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak perempuan, Putri Sarah dan Putri Lulua.

Dari sisi pendidikan dan keahlian, dia dianggap mumpuni untuk ukuran seorang Pangeran Arab. Dia antara lain meraih gelar Bachelor of Arts dalam ilmu politik pada 1981 dari Amerika Serikat. Dia juga pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan keamanan dari FBI pada 1985-1988, dan dilatih di unit anti-terorisme Scotland Yard, Inggris dari 1992 sampai 1994.

Sebelum berkarier di pemerintahan, Pangeran Muhammad adalah seorang pengusaha. Hingga kemudian Raja Fahd bin Abdulaziz menunjuk dia sebagai Asisten Menteri Dalam Negeri untuk Urusan Keamanan pada 13 Mei 1999.

Dalam posisi tersebut, dia diberikan keleluasaan untuk keberhasilan program Departemen kontra-terorisme. Dia kemudian menjadi arsitek untuk program kontra-pemberontakan yang membuat dirinya dianggap sebagai Asisten Menteri Dalam Negeri yang cakap. Sejak saat itu, kariernya di pemerintahan tak tertahan lagi.

Pada November 2009, Raja Abdullah menunjuk Pangeran Muhammad sebagai anggota berpengaruh pada Dewan Supremasi Ekonomi Arab Saudi. Berlanjut pada 5 November 2012, Raja Abdullah mengeluarkan dekrit kerajaan menunjuk Pangeran Muhammad sebagai Menteri Dalam Negeri.

Jalan Menuju Putra Mahkota

Tak seperti kebanyakan pangeran lainnya, Muhammad aktif berbicara kepada media tentang perjuangan negaranya melawan terorisme. Dia juga mengadopsi kebijakan tangan besi seperti ayahnya, Pangeran Nayef. Dia dan para elite pengambil keputusan lainnya percaya terorisme harus diperlakukan sebagai bentuk kejahatan dan harus dilawan secara tegas.

Tak heran kalau Pangeran Muhammad dipuji oleh badan intelijen Barat untuk program kontra-terorisme yang dia terapkan di Arab Saudi. Bahkan, setelah pengangkatan sebagai Menteri Dalam Negeri, diplomat Amerika berpendapat bahwa dia adalah menteri yang paling pro-Amerika di Kabinet Raja Abdullah.

Sejak saat itu, Pangeran Muhammad semakin berpengaruh dan semakin dikenal dunia. Dia bertemu Perdana Menteri Inggris David Cameron pada Januari 2013. Kemudian bertemu dengan Presiden AS Barack Obama di Washington DC pada 14 Januari 2013 guna membahas isu-isu keamanan dan perkembangan regional.

Para ekonom pun menggambarkan sosok Pangeran Muhammad sebagai pribadi yang energik dan rendah hati. Jauh-jauh hari, mereka menyatakan bahwa dia adalah salah satu kandidat untuk tahta Kerajaan Arab Saudi ketika garis suksesi jatuh ke garis cucu dari Raja Abdulaziz. Sebuah analisis yang yang akhirnya menjadi kenyataan.

Posisi Pangeran Muhammad semakin kuat ketika diangkat sebagai Ketua Dewan Urusan Politik dan Keamanan pada 29 Januari 2015. Puncaknya pada 29 April 2015, Pangeran Muhammad diangkat sebagai Putra Mahkota oleh Raja Salman, menggantikan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz.

Penunjukan dilakukan setelah disetujui Putra Mahkota Muqrin bin Abdulaziz yang kemudian dimintakan pendapat ke Lembaga Kerajaan Haiatu Al Bai’ah (Dewan Kesetiaan). Penunjukan itu kemudian diikuti dengan pernyataan baiat oleh tokoh dan wakil suku-suku di Saudi.

Tak banyak informasi tentang alasan Raja Salman memilih Pangeran Muhammad. Namun, yang umum berlaku di Arab Saudi, seorang raja harus mempunyai kemampuan kepemimpinan, yang didasarkan pada rekam jejak prestasi yang jelas atas kemampuannya menempati posisi-posisi penting di pemerintahan atau kerajaan.

Pangeran Muhammad sendiri dikenal sebagai sosok yang keras dan tegas terhadap aksi terorisme. Hal ini dianggap sebagai modal utama di tengah konflik Timur Tengah serta kekuatan kelompok teroris yang terus mengancam Kerajaan Arab Saudi.

Percobaan Pembunuhan

Sebagai Ketua Dewan Urusan Politik dan Keamanan, Pangeran Muhammad menjadi komandan dari Operasi Badai Yang Menentukan, sebuah operasi militer besar pertama Arab Saudi pada abad ke-21. Langkah ini lagi-lagi membuktikan sikap keras dia terhadap kelompok yang dinilai mengancam keamanan Arab Saudi.

Pasukan gabungan dari sejumlah negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi melancarkan serangan udara ke beberapa basis wilayah pemberontak Hutsi di Yaman. Serangan pada 25 Maret 2015 ini menandakan dimulainya intervensi militer di Yaman.

Dengan semua langkah berani dan tegasnya itu, tak heran kalau Pangeran Muhammad kerap menjadi sasaran pembunuhan. Dia tercatat pernah lolos dari empat percobaan pembunuhan. Percobaan pembunuhan terakhir terjadi pada Agustus 2010. Bahkan, dia terluka pada saat percobaan pembunuhan yang ketiga pada 27 Agustus 2009.

Upaya pembunuhan ketika itu dilakukan Abdullah Hassan Al Aseery (Al Asiri), seorang pembom bunuh diri yang punya hubungan dengan Alqaeda di Semenanjung Arab. Al Aseery menggunakan alat peledak tersembunyi di dalam duburnya yang dikenal sebagai perangkat peledak operasi implan improvisasi atau ‘Bom Rongga Tubuh’.

Al Aseery meledakkan bom bunuh diri yang ternyata hanya membunuh dirinya sendiri dan cuma melukai Pangeran Muhammad. Tak lama usai pemboman, Pangeran Muhammad muncul di televisi negara dengan balutan perban pada dua jari tangan kirinya.

“Al Aseery mengejutkan saya dengan meledakkan dirinya. Namun, perbuatan tersebut membuat saya lebih membulatkan tekad untuk memerangi terorisme,” tegasnya di depan kamera televisi.

Ketegasannya kemudian menjadi perhatian dunia. Pada 4 Maret 2016, Pangeran Muhammad dianugerahi Legion of Honor oleh Presiden Perancis Fran├žois Hollande. Dan pada April 2016, oleh majalah Time dia dianugerahkan sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia.