Beranda Teknologi Gadget Review Huawei P10 di Indonesia

Review Huawei P10 di Indonesia

Iklan

BABAT POST – Peluncuran seri P10 diliput ribuan jurnalis dari berbagai belahan dunia, hingga beberapa di antaranya –termasuk saya– tak bisa masuk ke lokasi acara karena sudah penuh. Meski demikian, saya masih bisa mencoba P10 warna biru secara langsung.

Menariknya, Huawei juga sukses menyodok kelas menengah-bawah sehingga menempatkan mereka sebagai produsen ponsel terbesar ketiga di dunia pada tahun lalu. Menurut IDC, Huawei berhasil mengirimkan 33,6 juta unit ponsel per kuartal tiga 2016. Sebagai perbandingan, Samsung mengirimkan 72,5 juta unit, sedangkan Apple sebanyak 45,5 juta unit.

Logo Huawei yang tadinya berada di dekat tombol Home berpindah ke bagian belakang. Sementara colokan USB C, volume, tempat kartu SIM, dan colokan audio masih sama dengan P9. Material bodi P10 merupakan perpaduan antara bahan logam dan kaca. Untuk memudahkan transfer data, Huawei menambahkan NFC.

Fitur tambahan lain yang juga sangat berguna adalah Eye Comfort. Jika diaktifkan, fitur ini akan memblok cahaya biru yang sangat menyilaukan mata. Ini penting jika Anda kerap utak-atik ponsel di ruangan redup, misalnya saat hendak tidur. Fitur semacam ini sudah tersedia di ASUS ZenFone dengan nama Bluelight Filter.

Antarmuka P10 juga berbeda dengan P9 karena sudah menggunakan EMUI 5.1 yang berbasis Android 7.0 Nougat. Kita tahu, Android Nougat sudah dilengkapi fitur Google Assistant, fitur kecerdasan buatan Google yang mirip dengan Apple Siri. Saya tak akan membahas lebih jauh mengenai Google Assistant di artikel ini.

Sementara itu, P9 masih menggunakan EMUI 4.1 yang berbasis Android 6.0 Marshmallow. Pusat notifikasi P10 lebih lengkap dibanding P9. Anda bisa mengakses NFC, Floating Dock, Screen Recorder, Do Not Disturb, Ultra Battery Saver, Eye Comfort dan Flashlight.

Kesimpulan dan Kekurangan

Untuk ponsel kelas atas dengan fitur kamera yang unggul, P10 selayaknya didukung ekosistem yang memadai. Huawei bisa memulainya dengan menyediakan layanan penyimpanan cloud sendiri atau bekerjasama dengan pihak ketiga. iPhone sudah punya iCloud, sedangkan Samsung bekerjasama dengan Dropbox. HTC menawarkan penyimpanan hingga 100GB di Google Drive secara gratis selama 2 tahun. Xiaomi dan ASUS juga sudah memiliki layanan sendiri.

Selain itu, Huawei perlu mempertimbangkan untuk menyediakan pilihan Themes yang lebih beragam. Mereka bisa merancang Themes sendiri atau membukanya buat pengembang seperti yang dilakukan Xiaomi.

Saya sudah menggunakan ponsel dual camera LG, HTC dan iPhone. Menurut saya, Huawei P9 dan P10 adalah yang paling menarik untuk memotret, terutama mode Monochrome yang sangat khas dan kuat. Saat dirilis, harga P9 jauh lebih murah dibanding para pesaingnya. Sementara P10 versi 64GB dan RAM 4GB dijual dengan harga mulai Rp9 jutaan di Eropa. Adapun P10 Plus dibanderol mulai Rp10 jutaan. Informasi yang kami terima, kemungkinan Huawei Indonesia akan mendatangkan kedua ponsel ini ke Tanah Air. Sayangnya, belum ada informasi apa pun terkait harganya.

Saat tiba kembali ke Tanah Air, 2 Maret 2017, Raisa “menyambut” kami di pintu keluar imigrasi. Kesimpulan saya: dengan segala kelebihan dan kekurangan Huawei P10, Raisa lebih cocok memakai ponsel ini.