Beranda Berita Nasional Aliran Sesat Baru, Sholat Tidak Harus Menghadap Kiblat

Aliran Sesat Baru, Sholat Tidak Harus Menghadap Kiblat

BERBAGI
Advertisement BabatPost.com

Babatpost.com – Berita tentang adanya aliran sesat kembali beredar, kali ini disebarkan oleh seorang wanita bernama Elah. dia Mengajarkan kesesatan ini kepada 11 orang muridnya yang ada di Sumedang. Salah satu mantan muridnya, Ineu Lestari (13), menceritakan soal perintah dan tingkah Elah.

Ineu ingat betul saat Elah memintanya melaksanakan salat dengan perintah tidak lazim. “Pas mau ikut salat, Ibu (Elah) bilang, ‘Salat itu tidak harus menghadap kiblat, ikuti arah matahari’,” kata Ineu mengikuti ucapan Elah saat itu.

Ineu ditemui detikcom di Kampung Bojong, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (15/7). Di kampung tersebutlah Elah bikin geger.

Setelah mendapat ajaran seperti itu, Ineu sempat mengikuti perintah guru mengajinya tersebut dengan salat mengarah ke matahari (arah timur). Kisah lainnya, Ineu merasa aneh atas perilaku Elah yang lagi-lagi tidak lazim.

“Kata Ibu (Elah), salat tidak harus di lantai, tapi di kasur juga bisa. Saya sering lihat Ibu salat di kasur dan menghadap arah matahari,” ucap Ineu.

Ineu bingung terhadap ajaran Elah. Sejak ada hal yang janggal, sekitar setengah tahun lalu, Ineu memilih berhenti mengaji bersama Elah.

Ineu, yang duduk di bangku SMP, mendapatkan pelajaran agama dari guru di sekolahnya. Ia pernah membandingkan ajaran yang disampaikan guru dengan apa yang diperintah Elah. Namun Elah kerap mengelak.

“Kalau dibandingkan atau kami nanya, Bu Elah bilangnya kalau dia itu nggak sekolah,” tutur Ineu.

Warga Geram

Aksi Elah mengajari anak-anak di pengajiannya salat menghadap matahari sampai ke telinga para orang tua. Warga memprotes keras kepada Elah tentang ajarannya yang dituding menyimpang itu.

Salah satu orang tua yang memprotes Elah, Ai Suherni (37), menceritakan dirinya mendengar ‘penyimpangan’ tersebut dari anaknya, Anisa Salsa Kinanti (14). Buah hatinya bercerita telah diislamkan lagi oleh Elah.

Ai lalu meminta penjelasan Elah pada 2 Juli 2017 siang hari lalu. Namun, kata Ai, Elah membantah mentah-mentah tudingan tersebut. “Saya nanya langsung ke Bu Elah, kenapa harus disyahadatin lagi? Tapi dia malah nuduh kalau anak saya bohong. Mendapati tuduhan tersebut, saya laporan ke MUI Kecamatan Jatinangor,” kata Ai saat ditemui di rumahnya di Kampung Bojong, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (15/7).

Dalam pertemuan tersebut, lanjut Ai, Elah mengelak dan mengklaim dirinya benar. “Teguh pendirian kalau dia benar, padahal menurut kami ada yang beda (menyimpang),” ujar Ai.

Selain itu, menurut Ai, Elah pernah berkata bahwa dakwah lebih penting dibanding salat. “Dapat dalil dari mana dia? Menurut saya justru salat lebih penting,” kata Ai.

Ia menyesalkan sikap Elah yang tidak meminta maaf atas tindakannya itu. “Dia tidak mau meminta maaf, menganggap dirinya benar,” ucap Ai.

Baca juga: Pimpinan Aliran Salat Hadap Matahari di Sumedang Seorang Perempuan

Sementara itu, ayahanda Anisa, Yudi Hafidin (39), berharap kampungnya tidak kisruh berlarut-larut akibat kehebohan Elah. “Ya, balik tentram dan tenang. Tidak seperti sekarang, ramai,” ujar Yudi.