Penyebab COVID-19 Varian Delta Masuk ke Indonesia, Apa Saja yang Mesti Diwaspadai?

  • Share

BabatPost.com – COVID-19 varian Delta terbukti memiliki sifat lebih mudah menular dari pada virus SARS-CoV-2 varian aslinya. Varian ini telah masuk ke dalam kategori varian of concern (VOC) yang berarti varian virus ini harus diwaspadai dengan lebih ketat.

Bagaimana penyebaran varian ini di Indonesia?

Peringatan bahaya COVID-19 varian Delta di Indonesia

COVID-19 varian Delta disebut mendominasi kasus penularan di DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. Varian yang dinyatakan lebih mudah menular dari varian aslinya ini dinilai berkontribusi besar dalam lonjakan kasus di Indonesia yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan varian Delta telah terdeteksi di Indonesia sejak 3 Mei 2021. Hingga 20 Juni 2021, tercatat 160 kasus di 9 provinsi di Indonesia yang merupakan infeksi SARS-CoV-2 varian delta.

Sebetulnya sejak akhir tahun lalu para ahli di Indonesia telah memberikan sinyal tanda bahaya terhadap kemunculan varian-varian baru yang berpotensi lebih berbahaya. Virus penyebab COVID-19 bermutasi dan menghasilkan berbagai varian baru yang memiliki karakter sedikit berbeda, salah satunya berkali lipat lebih mudah menular dan resisten terhadap vaksin.

Berita Terkait :  Begini Kesaksian Ema Tentang Hubungan Habib Rizieq Dengan Firza Husein

Tiga dari total 4 varian mutasi SARS-CoV-2 yang masuk dalam kategori VOC telah terdeteksi di Indonesia yakni varian Alpha, Beta, dan Delta.

Sejumlah fakta varian Delta

Menurut WHO, varian Delta atau B.1.617.2 pertama kali dideteksi pada Oktober 2020. Varian ini kemudian menjadi perhatian khusus dan dimasukkan ke dalam kategori varian of interest (VOI) pada 4 April 2021 yang berarti terduga memiliki sifat lebih mudah menular atau membuat keparahan gejala.

Pada 11 May 2021, varian ini naik level ke kategori VOC karena terbukti memiliki sifat jauh lebih mudah menular. Varian Delta diketahui membawa tiga kombinasi mutasi yakni E484Q (Eek), L452R, dan P681R. Sebuah studi preprint yang diterbitkan di jurnal BiorXiv menyebut tiga kombinasi mutasi ini membuat varian Delta lebih mudah menular dengan mempermudah kemampuan virus dalam mengikat sel manusia.

Berita Terkait :  Juru wabah: Mau RS dan ICU ditambah, kita tetap tumbang! nggak guna omong herd immunity

Varian ini dianggap menjadi salah satu pemicu terjangan gelombang kedua COVID-19 di India hingga 300 ribu kasus baru per harinya.

Meski begitu para ahli mengatakan varian Delta tidak bisa dikatakan sebagai biang keladi situasi pandemi di India. Menurut beberapa ahli epidemiologi India, kondisi di negaranya juga merupakan kombinasi dari terlambatnya langkah pemerintah dan buruknya protokol kesehatan.

Selain India, varian Delta juga telah menyebar di lebih dari 80 negara dan menjadi penyebab munculnya lonjakan kasus. Inggris menjadi salah satu negara yang melaporkan puluhan ribu kasus penularan COVID-19 dari varian Delta. Sebelum dideteksinya varian Delta, Inggris lebih dulu diserang gelombang kenaikan kasus COVID-19 dari varian Alpha. Namun belakangan kasus COVID-19 di Inggris telah dominasi dengan varian Delta.

COVID-19 varian Delta telah dinyatakan lebih menular dari varian Alfa (B.1.7.7) yang pertama kali dideteksi menyebar secara luas di Inggris pada September 2020.

Menurut Departemen Kesehatan Inggris (PHE), data mereka menunjukkan varian Delta cenderung menyebabkan rawat inap ketimbang varian Alpha. Namun organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi laporan ini.

Berita Terkait :  5 Alasan Anda Lebih Sering Digigit Nyamuk

Selain itu, varian Delta juga disebut cukup resisten terhadap vaksin, terutama pada orang yang baru menerima satu dosis. Sebuah studi dari Public Health England yang diterbitkan pada 22 Mei menemukan bahwa dosis tunggal vaksin AstraZeneca atau Pfizer mengurangi risiko seseorang mengembangkan gejala COVID-19 yang disebabkan oleh varian Delta sebesar 33%, dibandingkan dengan 50% untuk varian Alpha.

Dosis kedua vaksin AstraZeneca meningkatkan perlindungan terhadap Delta hingga 60% (dibandingkan dengan 66% terhadap Alpha), sementara dua dosis suntikan Pfizer adalah 87,9% efektif (dibandingkan dengan 93% terhadap Alpha).

“Kami membutuhkan lebih banyak informasi untuk menentukan: apakah itu benar-benar disebabkan varian itu sendiri atau kombinasi dari beberapa faktor lain,” kata kepala Teknis COVID-19 WHO, Van Kerkhove.

Vaksin yang terbukti efektif

Empat vaksin COVID-19 yang tercatat memiliki efikasi terhadap varian Delta yakni Pfizer 87,9%, AstraZeneca 60%, dan Covishield serta Covaxin dengan 65%.

  • Share