Aksi demo di Bandung, 150 orang diamankan, tiga orang reaktif Covid-19, pendemo teriak, ‘kami butuh makan’

  • Share

Polrestabes Bandung mengamankan 150 orang peserta aksi tolak perpanjangan PPKM dalam demo di Bandung, Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, tiga orang teridentifikasi reaktif Covid-19.

“Adapun 150 orang itu telah kami lakukan swab antigen. Hasil sementara ini baru tiga orang reaktif. Makanya kerawanan penyebaran akibat kerumanan ini bahaya seolah tidak ada covid,”kata Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya, Rabu (21/7/2021) seperti dilansir dari RMOL.

Dikatakan Ulung, dari total yang ditangkap, sembilan orang berstatus sebagai mahasiswa, 36 siswa orang siswa SMA dan sederajat, 6 siswa SMP, 34 orang pengangguran dan putus sekolah, serta 65 orang lainnya.

Dari tangan peserta aksi, polisi menyita lima bom molotov. Polisi menduga massa aksi ini ingin membuat Bandung tak kondusif.

PPKM tanpa solusi

Sebelumnya, ratusan orang terdiri dari pedagang, pengemudi ojek online (ojol), hingga mahasiswa turun ke jalan menyuarakan penolakan perpanjangan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 25 Juli 2021. Penolakan ini karena kebijakan tersebut sangat merugikan dari segi ekonomi.

Salah satu pedagang yang berjualan di mal Bandung Electronik City (BEC), Putra (28) yang ikut demo di Bandung ini mengatakan, dia sangat merugi dengan pemberlakukan PPKM yang berlangsung pada 3 Juli hingga 20 Juli. Sebab, para pedagang tidak bisa berjualan sehingga tidak ada pemasukan sama sekali.

“Kami dirugikan. Kontrakan tetap harus dibayar dan tidak ada keringanan. Apakah ini solusi? Ada aturan harusnya ada solusi. Istri dan anak saya harus makan,” ujar Putra saat ikut demo di depan Balai Kota Bandung, Rabu (21/7/2021) disitat dari IDNTimes.

Dia pun mengkritisi pemerintah yang tidak menyalurkan bantuan sosial (bansos) secara menyeluruh. Bansos yang ada tidak didapat semua warga terdampak pandemik Covid-19, padahal PPKM yang dilakukan sudah merugikan pelaku usaha kecil.

Menurutnya, pejabat pemerintah yang memerintahkan adanya PPKM Darurat bisa tenang karena masih digaji oleh negara. Sedangkan pelaku usaha dan pekerja informal lainnya harus kerja keras mencari sesuap nasi.

“Kudu lihat ke bawah. Dulu dipilih ku rakyat, sekarang mana janjinya. Budak cerik hayang jajan (anak nangis ingin jajan), emang ganpang cari duit,” pungkas Putra.

Sementara itu salah satu pengemudi ojek online yakni Galih Azwa yang juga ikut demo di Bandung ini berharap pemerintah segera meniadakan PPKM. Aturan yang berlaku membuat pengemudi ojol sulit dapat orderan baik penumpang maupun makanan.

Akibat kebijakan itu pula yang memberlakukan penyekatan, banyak ojol yang kurang mendapat pemasukan. Sebab pengemudi harus berkeliling ketika mengantar makanan atau penumpang.

“Biasa saya bisa dapat Rp100 per hari, sekarang paling banyak Rp30 ribu. Bensin juga jadi lebih banyak keluar karena muter-muter cari jalan ditutup semua,” tutur Galih.

Sumber Berita

Dapatkan update berita viral menarik hanya di BabatPost.com, Jangan Lupa Follow BabatPost.com di Google News

  • Share