Menikmati Keindahan Alam sambil Belajar Meramu Kopi di Pasuruan

Jawapos TV

Konsep berwisata di era sekarang sudah sedemikian variatif. Tak hanya melulu tentang objek yang mengandung keindahan atau keunggulan lain, kebun kopi pun bisa disulap menjadi destinasi yang recommended. Sekaligus mendongkrak perekonomian warga sekitar.

Read More

TIDAK salah jika Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu sentra pariwisata di Jatim. Di sana, ada begitu banyak objek wisata yang jadi jujukan para traveler. Konsep yang ditawarkan juga sangat beragam.

Banyak deretan wisata bernuansa alam yang berdiri di kabupaten tersebut. Demikian pula wisata buatan atau kawasan wisata konservasi. Selain itu, yang tak kalah menarik adalah objek wisata di kawasan kebun kopi.

Ya, kebun tanaman yang bijinya begitu digemari masyarakat berbagai lapisan umur itu ternyata mampu disulap menjadi objek wisata. Destinasi tersebut terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Tutur.

Objek wisata itu diinisiatori salah seorang warga setempat yang bergelut di bidang perkopian, Ida Irawati, 50. Dia menyulap kebun kopi seluas 1 hektare miliknya menjadi sentra budi daya sekaligus tempat berwisata. ’’Saya berkebun kopi sudah lama. Dulu ada warisan lahan kopi. Kemudian, banyak yang belajar (membudidayakan kopi, Red),’’ ujarnya.

Berita Terkait :  Konstruksi Tol Pasuruan Probolinggo Roboh, Kabarnya Memakan Korban Jiwa

Kebun tersebut tidak jauh dari rumah Ida. Awalnya, lahan itu hanya dipakai untuk menanam kopi. Namun, dalam perkembangannya, perempuan itu mendapat banyak masukan agar menyulapnya menjadi objek wisata. ’’Terutama untuk yang ingin belajar budi daya dan produksi kopi,” katanya.

Meski lahan itu tidak didesain layaknya objek wisata edukasi (karena luasnya hanya 1 hektare), konsep yang diusung Ida cukup diminati para pengunjung. Selain hamparan kebun kopi, di sana ada rumah produksi.

Di tempat itu, pengunjung bisa belajar seluk-beluk perkopian. Mulai mengolah biji yang baru dipetik hingga meramunya menjadi minuman. ’’Semua ada. Tidak hanya bermain di kebun sambil belajar, tetapi juga mengajarkan produksinya,’’ jelasnya.

Tak hanya itu, traveler juga berkesempatan menikmati hangatnya kopi secara langsung di kebun. Wisatawan disediakan dua varian kopi yang ditanam di sana, yakni robusta dan arabika.

Para pengunjung juga bisa bermalam di sana. Pengelola telah menyiapkan penginapan. Selain di rumah milik Ida, rumah-rumah milik warga bisa menjadi homestay. ’’Untuk penginapan, banyak. Tetangga juga kami libatkan. Alhamdulillah, menambah pendapatan,’’ ujarnya.

Soal makanan, jangan khawatir. Sebab, di sana juga sudah disediakan. Menu-menunya khas pedesaan. Pengunjung tinggal pilih. Mau makan di rumah/homestay atau sambil menikmati hawa pegunungan di kebun kopi.

Berita Terkait :  Sajian Keindahan Air Terjun Mini hingga River Tubing di Sumber Maron

Biasanya, layanan one-stop service itu diminati wisatawan yang ingin belajar budi daya atau mengolah kopi. Sebab, sesi tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang. Minimal dua hari. ”Sehari juga bisa. Tapi, lompat-lompat. Ilmu yang bisa diserap tidak banyak,’’ terangnya.

Kini kebun kopi tersebut tak hanya jadi objek wisata edukasi, tetapi juga lebih dari itu. Keberadaannya sedikit banyak mampu mendongkrak ekonomi warga sekitar.

Sukses karena Berikan Semua Ilmu yang Dimiliki

KONSEP yang ditawarkan objek wisata di Desa Gunungsari tersebut diminati. Terutama seiring makin booming-nya produk-produk olahan kopi. Makin banyak pengunjung yang datang ke sana.

Mayoritas adalah para wisatawan pencinta kopi. Baik perorangan maupun kelompok petani/pengusaha yang bergelut di dunia perkopian. Sebab, selain berwisata, mereka berniat menimba ilmu.

Bukan hanya wisatawan lokal dari berbagai daerah, melainkan juga mancanegara. Mereka datang dari berbagai negara seperti Belanda, Australia, Italia, Korea, Amerika, dan Prancis.

Mayoritas wisatawan mancanegara tersebut datang ke sana saat sebelum pandemi virus korona. Saat ini dominasinya adalah wisatawan dalam negeri. ’’Untuk saat ini, hanya wisatawan Nusantara. Untuk wisatawan asing, belum. Sekarang yang banyak dari kampus, sekolah, dan kelompok tani,’’ katanya.

Rata-rata tidak kurang dari 100 orang yang datang setiap hari. Mereka mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana cara budi daya kopi. Mulai melakukan pembibitan hingga merawat pohon kopi secara organik.

Berita Terkait :  Lestarikan Adat dan Benda Peninggalan Melalui Wisata di Desa Napo

Di sana, para pengunjung juga diajari teknik memanen petik merah. Ya, kopi yang telah matang ditandai dengan warna kulit yang merah. ’’Setelah panen, kebanyakan pengunjung ingin belajar proses selanjutnya. Makanya, kami ajarkan juga. Ada lima macam proses. Yakni, natural, semi-wash, full wash, honey, dan wine process,’’ ungkapnya.

Ada satu alasan kuat yang membuat para pengunjung datang berwisata sekaligus belajar tentang dunia perkopian di sana. ’’Semuanya ingin berwisata sambil belajar. Kami tidak menutupi apa pun. Semua ilmu yang kami punya kami berikan,’’ ujarnya.

TENTANG WISATA EDUKASI KEBUN KOPI PASURUAN

– Terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.

– Destinasi ini berada di lahan seluas 1 hektare.

– Ada dua jenis kopi yang dibudidayakan. Yakni, arabika dan robusta.

YANG BISA DINIKMATI DI SANA:

– Wisata edukasi tentang budi daya secara organik hingga pengolahan kopi menjadi produk jadi.

– Jelajah kebun kopi maupun pemandangan alam di kawasan pegunungan di Desa Gunungsari.

– Pengunjung kawasan tersebut bisa singgah di homestay di rumah-rumah warga setempat.

Related posts