Inilah Alpukat Termahal di Dunia

BabatPost.com – Sangat susah mencari restoran yang menyajikan kuliner Meksiko autentik. Walaupun beberapa menu khas Meksiko sebenarnya sudah akrab di lidah orang Indonesia terutama kota-kota besar.

Sebut saja taco, saus salsa, saus guacamole, dan sebagainya. Meski, kuliner-kuliner ini lebih bisa dibilang lebih cenderung bercita rasa Texas-Meksiko atau kuliner Texas yang mendapat pengaruh Meksiko, karena Texas memang berbatasan dengan Meksiko.

Jika Anda ingin mengetahui dan mencicipi kuliner asli Meksiko, mampirlah ke restoran Bengawan di Keraton at The Plaza, Jakarta. Restoran ini tengah mempromosikan kuliner khas Meksiko bertajuk “Viva Mexico! A Mexican Food Extravaganza”.

Tak tanggung-tanggung, koki profesional yang menjadi otak di belakang menu-menu autentik Meksiko tersebut adalah koki berkewarganegaraan Meksiko bernama Chef Lamberto Valdez Lara. Ia lahir dan besar di Acapulco, Meksiko, sebuah daerah yang terkenal sebagai kawasan turistik penggemar resor-resor pantai.

Setiap menu yang dihadirkan penuh dengan cerita dan kenangan akan kampung halaman Chef Lamberto. Apalagi Chef Lamberto memang gemar bercerita. Ia telah menyiapkan serangkaian menu mulai dari hidangan pembuka sampai penutup. Semuanya begitu khas Meksiko.

Mari mulai dengan hidangan pembuka. Chef Lamberto menyarankan “Sopa de Tortilla” atau sup dengan tortilla yang berbahan dasar jagung. Ya, seperti dituturkan Chef Lamberto, masyarakat Meksiko gemar menggunakan tepung masa harina yang terbuat dari jagung.

“Saya tidak bisa menemukan tepung ini di Jakarta. Jadi kami bawa dari Meksiko untuk membuat tortilla. Sebenarnya bahan jagung banyak ada di Indonesia, jadi bisa saja kalau mau dibuat,” jelas Chef Lamberto.

Nah, ada yang unik dari menu ini. Mungkin Anda sudah pernah makan sup tortilla. Biasanya menggunakan bahan cabai khas Meksiko, tortilla, dan alpukat. Menariknya, Chef Lamberto menggunakan jenis alpukat hass.

“Alpukat hass bisa dibilang adalah alpukat termahal di dunia. Biji aslinya berasal dari Meksiko, oleh orang bernama Rudolph Hass ditanam di Kalifornia. Perlu waktu 50 tahun sampai alpukat ini menjadi tenar,” kata Chef Lamberto.

Menurutnya, tekstur dan cita rasa alpukat hass sangat berbeda dengan alpukat lokal. Teksturnya yang padat dan gemuk, seperti mentega dengan kadar air yang sedikit. Beda dengan alpukat lokal yang banyak airnya.

Chef Lamberto mengungkapkan di Indonesia, termasuk Jakarta, alpukat jenis hass ini bisa ditemukan. Harganya di kisaran Rp 200.000-an per kilogram.

Di tempat asalnya, Sopa de Tortilla menggunakan tortilla dari jagung dicampur potongan ayam, daun ketumbar, dan bawang bombai. Semua diaduk jadi satu. Segar dan lembut dengan selintasan hentakan pedas cabai quajillo dan chipotle atau cabai jalapeno yang diasapkan.

Anda juga harus coba menu “Guacamole for Two”. Sesuai namanya, alpukat hass kembali digunakan. Saus guacamole menjadi cocolan keripik tortilla. Nah, ada dua jenis saus guacamole.

Pertama alpukat yang dipadukan dengan keju feta dan keju kambing sehingga cenderung gurih. Kedua adalah alpukat dicampur chipotle dan daun ketumbar. Jadi ada hentakan pedas berasap dari chipotle dan harumnya daun ketumbar.

Mari ke hidangan utama. Anda bisa mencoba “Lobster Crepes Mole”, “Huachinango a la Veracruzana”, atau “Tampiquena”. Coba cicipi dulu “Lobster Crepes Mole”. Sesuai namanya, mungkin Anda sudah mengenal crepes yang sudah biasa dijual di kota-kota besar di Indonesia.

Menuut Chef Lamberto, crepes dalam hidangan Meksiko merupakan pengaruh dari kuliner Perancis. Ia menuturkan Meksiko pernah di bawah pemerintahan kolonial Perancis selama tiga tahun.

“Biasanya crepes ada dua jenis, yang manis dan yang gurih. Untuk menu ini, kita buat gurih. Isiannya adalah daging lobster dengan bumbu seperti rosemary dan thyme. Nah, sausnya yang unik,” jelasnya.

Saus yang digunakan berwarna kecokelatan dan disebut dengan Mole Sauce. Uniknya, seperti penuturan Chef Lamberto, di Meksiko setiap tahunnya ada kompetisi bergengsi membuat Mole Sauce yang diikuti oleh banyak daerah di Meksiko.

“Saus Mole ini terbuat dari 25 jenis bahan yang dimasak selama lima jam. Bahan utamanya adalah kakao, kacang, dan cabai,” kata Chef Lamberto.

Jadinya adalah paduan unik antara kelembutan bersama gurihnya crepes dengan manisnya daging lobster. Lalu rasa semakin kuat dengan saus Mole yang harum cokelat selintasan, pedas yang halus, dan rasa kacang yang dominan.

Sedangkan Tampiquena semacam menu steak. Daging sapi bagian rusuk dimasak dengan kematangan yang pas hingga terjaga kelembutannya. Lalu sausnya terbuat dari pableno hijau semacam paprika, bawang putih, dan daun ketumbar.

“Sebagai pendamping adalah kentang rebus yang dihancurkan. Warnanya jadi jingga pekat karena dicampurr cabai guajillo dan jamur,” jelas Chef Lamberto.

Saatnya kembali ke urusan alpukat. Ya, alpukat hass digunakan pula di hidangan utama. Kali ini untuk menu “Huachinango a la Veracruzana”. Chef Lamberto menjelaskan Veracruz merupakan nama daerah di Meksiko.

“Ini seperti nasi goreng di Indonesia. Nasi Meksiko sebenarnya berasal dari beras dari Spanyol,” kata Chef.

Nasi dikukus dalam saus tomat sehingga menjadi nasi berwarna merah, baru kemudian digoreng dengan bumbu. Atasannya adalah saus guacamole dari alpukat hass. Alpukat dibuat menjadi puree.

Hasilnya adalah saus alpukat yang terasa kuat namun tak aneh bercampur dengan nasi tomat. Asam dan segar tomat meresap ke dalam nasi dengan aroma asap yang menggiurkan bercampur dengan alpukat yang seperti lelehan mentega.

Tutup hidangan dengan Chocoflan semacam kue fondant dari cokelat. Pilihan lain bisa coba Churros yang memang hidangan manis khas Meksiko.

Promo “Viva Mexico! A Mexican Food Extravaganza” berlangsung pada 18 Mei hingga 2 Juni 2013. Menu-menu khas Meksiko ini tersedia pada saat makan siang dan makan malam.

Anda bisa mengambil paket Sunday Brunch untuk makan prasmanan sepuasnya di hari Minggu dengan harga Rp 288.000 (++) per orang. Harga yang pantas untuk pengalaman kuliner autentik Meksiko yang masih jarang di Jakarta.

alpukatkkulinertermahal