Komnas HAM: Penembakan Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan Tanpa Koordinasi Kapolres Malang

Komnas HAM

babatpost.com – Komnas HAM telah melakukan penyelidikan terkait Tragedi Kanjuruhan yang memakan ratusan korban jiwa dan ditemukan fakta jika ada 45 kali tembakan gas air mata pada saat tragedi Kanjuruhan, Malang.

“Diperkirakan gas air mata ditembakkan di dalam stadion pada peristiwa ini sebanyak 45 kali. 27 tembakan terlihat dalam video. Kami mengkompilasi semua video yang ada dan kemudian 18 lainnya terkonfirmasi terdengar. Jadi suaranya suara tembakan jadi itu sebanyak 45 kali,” kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, Rabu (2/11/2022).

Read More
Berita Terkait :  5 Terdakwa Tragedi Kanjuruhan Arema Malang Dijerat Pasal kelalaian

Beka menerangkan, penembakan gas air mata tidak hanya dilakukan oleh personel Brimob tapi juga personel Sabhara. Adapun amunisi gas air mata yang digunakan merupakan stok tahun 2019 dan telah expired atau kadaluarsa.

“Bahwa pada saat pertandingan yang diturunkan merupakan pasukan dengan kemampuan PHH Pasukan huru-hara yang membawa gas air mata,” ujar dia.

Beka menyebut, penggunaan gas air mata mengacu pada Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tugas Kepolisian Republik Indonesia.

Berita Terkait :  Tim Gabungan Aremania (TGA) Minta Polda Jatim Rekonstruksi Ulang Tragedi Kanjuruhan

Namun, pada saat pertandingan Arema VS Persebaya ditemukan fakta bahwa penembakan gas air mata dilakukan tanpa koordinasi dengan Kapolres Malang.

“Dan atas diskresi dari masing-masing pasukan,” ujar dia.

Beka kemudian mendetailkan, personel Brimob menembakan gas air mata ke shuttle ban selatan pada pukul 22.08.59 sampai 22.09.08.

“Brimob 11 kali menembakkan gas air mata ke arah shuttle ban selatan lapangan. Setiap tembakan berisi 1-5 amunisi gas air mata,” ujar dia.

Related posts