Menikmati Keindahan Huta Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara

Menikmati Keindahan Huta Siallagan di Pulau Samosir, Sumatera Utara

Berkunjung ke Danau Toba tentu tak lengkap jika belum ke Pulau Samosir. Ada begitu banyak kawasan wisata dan cagar budaya di pulau yang berada di tengah danau terbesar di Indonesia itu. Salah satunya, Huta Siallagan.

Read More

PAGI (10/2) itu, mendung menggelayut di atas langit Kabupaten Parapat, khususnya di pinggiran Danau Toba. Udara dingin seakan-akan jadi teman yang pas bagi kopi panas sambil menyaksikan keindahan alam danau yang sangat tersohor tersebut.

Sekitar pukul 07.00, sebuah kapal boat bersandar di pinggiran hotel. Bersiap mengantarkan ke tujuan utama, yakni Pulau Samosir.

Saat perjalanan dimulai, kapal boat yang mengarungi Danau Toba seakan-akan menjadi panggung pertunjukan tentang keeksotisan danau sedalam 508 meter tersebut. Gumpalan awan di area perbukitan Pulau Samosir yang terlihat dari atas danau terlihat indah. Dipadu dengan eloknya aneka burung yang terbang di langit.

Tak lama kemudian, bunyi bel boat dibunyikan. Seolah-olah menjadi penanda bahwa keindahan sesungguhnya telah dimulai. ’’Objek wisata di Samosir sangat banyak,’’ terang Syarifah Aisyah, tourist guide Danau Toba.

Bukan hanya keindahan alamnya yang ’’masih perawan’’, sejarah dan budaya di pulau seluas 630 kilometer persegi itu juga memiliki daya pikat yang kuat.

Benar saja, begitu kapal yang juga ditumpangi Jawa Pos tiba di Dermaga Desa Wisata Siallagan, pengunjung disuguhi keeksotisan ukiran kayu setinggi 5 meter bernama Gorga, serta deretan rumah bolon (rumah adat Batak Toba) yang berjejer di sisi dermaga. Bangunan-bangunan itu menjadi ’’gerbang pembuka’’ bahwa traveler telah memasuki Huta Siallagan, salah satu cagar budaya di Pulau Samosir.

Berita Terkait :  5 Curug Puncak Bogor Sering dikunjungi: Harga, Lokasi, Jam Buka

Di sana, deretan rumah bolon yang berusia ratusan tahun itu berdiri kokoh. Lantainya terbuat dari papan. Atapnya dari ijuk serta rumbia, ditambah aneka ukiran di bagian depan. ’’Dulu dihuni masyarakat asli Huta Siallagan,’’ lanjut Syarifah.

Konon, pada masa itu, Desa Siallagan dilengkapi benteng pertahanan dan bambu runcing. ’’Untuk menghindari serangan binatang buas dan suku lain,’’ papar perempuan asli Medan itu.

Selain rumah bolon, yang jadi primadona di desa tersebut adalah batu persidangan. Di dekatnya terdapat pohon tin bernama Hariara yang dianggap pohon suci oleh penduduk asli. Dulu, di batu itulah Raja Siallagan bersidang untuk menghukum para penjahat. ’’Jadi, jangan heran jika banyak orang Batak yang jadi pengacara. Dari dulu sudah mengerti soal persidangan,’’ terang Gading Jansen Siallagan, keturunan Raja Siallagan ke-17.

Di batu persidangan itu, ada beragam jenis kejahatan yang disidangkan. Mulai yang ringan hingga berat. Di sana juga terdapat beberapa makam leluhur. Letaknya sedikit tinggi dari deretan rumah bolon.

Suasana Huta Siallagan mulai meriah ketika alunan musik tradisional terdengar. Beberapa penduduk lokal mengajak Jawa Pos dan pengunjung lain menari tortor. Agar lebih asyik, pemandu wisata sengaja meminjamkan pernak-pernik baju adat Batak Toba. Mulai penutup kepala hingga selendangnya.

Berita Terkait :  Merasakan Epiknya Wajah Pemandian Tirtosari View, Lumajang

Kemeriahan makin terasa saat Patung Sigale-gale yang berdiri tepat di seberang batu persidangan terus bergerak. Beberapa wisatawan asing terlihat sangat menikmati tarian tortor. ’’Horas, horas, horas!’’ teriak pemandu wisatawan lokal yang disambut para pengunjung dengan ucapan yang sama.

’’I really enjoy tortor dance, maybe I’ll learn about it (saya sangat menikmati tari tortor, mungkin saya akan lebih mempelajarinya, Red),’’ ungkap Michelle Novaldo, salah seorang wisatawan asing asal Selandia Baru.

Kunjungan ke Huta Siallagan ditutup dengan prosesi penggal kepala yang dulunya adalah salah satu jenis vonis bagi terdakwa setelah disidang di batu persidangan.

Hukuman pancung itu dilakukan di batu persidangan kedua yang berjarak 6 meter dari batu persidangan pertama. ’’Pada zaman dulu, jika melakukan kejahatan sangat berat, hukumannya pancung,’’ tegas Gading.

Pandemi Membuat Warga Belajar untuk Bangkit

PARIWISATA menjadi salah satu urat nadi perekonomian warga di Pulau Samosir. Di sana, deretan kios berjejer rapi. Mulai dermaga hingga menuju berbagai objek wisata di pulau setinggi 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl) itu.

’’Horas!’’. Kata itulah yang selalu dilontarkan tiap kali para pedagang bertemu pengunjung. Alunan musik tradisional Batak menambah keinginan para wisatawan untuk berbelanja.

Mayoritas pedagang menjajakan ragam suvenir atau pernak-pernik bertema Danau Toba atau Pulau Samosir. Hampir semuanya buatan warga setempat. Mulai kain hingga ukiran kayunya.

PEMANDANGAN DARI DANAU: Di atas kapal boat, pengunjung sudah bisa menikmati keindahan alam Pulau Samosir. (Farid Maulana/Jawa Pos)

Saking vitalnya, warga di Pulau Samosir begitu terpukul saat sektor pariwisata ditutup selama masa pandemi Covid-19. ’’Kami bersyukur Pulau Samosir bisa dikunjungi lagi,’’ ujar Toni Ambarita, salah seorang pedagang.

Berita Terkait :  Wow, Bandar Udara Balikpapan Ini Raih Peringkat 6 Terbaik Dunia Dalam Hal Layanan Penumpang

Namun, ada hikmah positif yang diambil pelaku usaha di sana dari terpaan pandemi. Mereka lebih banyak belajar bagaimana kembali menggaet wisatawan agar kembali datang sehingga bisa bangkit lagi. ’’Dulu banyak yang bilang kami terlalu memaksa ketika menawarkan dagangan. Kami belajar, kami ingin wisatawan kembali lagi. Kami ingin mereka nyaman di sini,’’ paparnya.

Harga pernak-pernik yang dijual cukup ramah di kantong. Misalnya, gantungan kunci berbentuk rumah bolon dibanderol Rp 2 ribu hingga Rp 15 ribu. Atau, kain-kain rajutan dihargai Rp 50 ribuan. ’’Bisa ditawarlah. Tapi, jangan kejam menawarnya,’’ katanya, lantas tersenyum.

Syarifah Aisyah, pemandu wisata Danau Toba, juga mengakui geliat ekonomi warga kembali terangkat setelah wisatawan boleh masuk lagi ke Pulau Samosir. ’’Apalagi, Presiden Jokowi beberapa kali berkunjung. Menginap pula. Jadi, warga bisa kembali hidup dari keindahan, sejarah, dan budaya pulau ini,’’ tuturnya.

TENTANG HUTA SIALLAGAN

– Terletak di Pulau Samosir di tengah Danau Toba yang masuk wilayah Kabupaten Samosir.

– Masuk wilayah Desa Siallagan Pindaraya.

– Huta Siallagan disebut-sebut merupakan salah satu situs tertua peninggalan suku Batak.

– Terdapat rumah adat yang terdiri atas tiga jenis. Yakni, rumah bolon, rumah siamporik, dan rumah sibola tali.

– Kawasan ini diresmikan menjadi kampung wisata oleh Presiden Joko Widodo.

Related posts